Ada suatu tempat wisata yang lain di Sulawesi Utara. Tempat ini diberi nama “Bukit Kasih”. Maksud dan tujuan tempat wisata ini adalah kerukunan antar umat beragama. Oleh sebab itu di tempat ini dibangun tempat beribadah kelima agama resmi di Indonesia. Harapannya agar kelima agama ini dapat saling mengasihi dan tetap rukun di Sulawesi Utara.
Saat ini Bukit Kasih nampak tidak terawat lagi. Sampah berserakan di mana-mana, sarana dan prasarannya mulai rusak tidak terpelihara.
Bila keadaan ini dipertanyakan, sudah barang tentu jawabannya adalah kekurangan dana operasional dan pemeliharaan, meskipun pungutan sejumlah uang untuk memasuki tempat ini masih dilakukan.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Bukit Kasih dibangun oleh anggaran pemerintah propinsi yang sebenarnya tidak direncanakan sebelumnya. Semua masyarakat Sulawesi Utara pun tahu bahwa dana atau anggaran pembangunan tempat ini tidak dipertanggung jawabkan kepada siapapun, alias sesuka hati menggunakannya. Dana pembangunan yang mencapai milyaran rupiah ini dikeluarkan dengan tidak terencana dan tidak terkontrol, pun tidak ada laporan pertanggung jawaban, toh semua ini dilakukan atas dasar kasih, jadi mungkin Bapak Pejabat waktu itu mengharapkan toleransi dari semua pihak. Bukan begitu Pak?
