Aku heran!
Benar-benar heran!
Apakah pejabat kita ini bodoh atau tidak tau diri. Mungkin kedua-duanya ya? Bodoh dan tidak tau diri.
Dengan mengendarai mobil pelat merah, bila jabatannya agak tinggi, biasannya didampingi mobil pelat merah lain yang menggunakan sirene, menyusuri jalanan dengan kesombongan khas pejabat Indonesia, memaksa pengendara lainnya, yang cuma rakyat jelata, untuk minggir memberinya jalan yang lebar selebar-lebarnya agar ia bisa lewat. Jika ada rakyat jelata yang tidak segera memberinya jalan, suara sirene yang meraung-raung akan ditambah dengan suara klakson panjang memekakan telinga, dan teriakan dari speaker diatas mobil bersirene memaksa kendaraan rakyat jelata di depannya untuk segera menepi. Ia tidak akan bersabar sedetikpun bila kendaraan di depan tidak segera menyingkir detik itu juga, meski keadaan tidak memungkinkan bagi si rakyat jelata untuk segera menepi. Misalnya ada kendaraan lain yang sedang parkir di pinggir jalan, sehingga si rakyat jelata harus maju sedikit dulu baru kemudian menepi setelahnya.
Tidak!
Sang pejabat tidak mau sabar. Mungkin ia takut kopi di atas mejanya di kantor, yang telah disiapkan oleh office boy yang gajinya 1000 kali lebih rendah darinya, keburu dingin dan ia tidak sempat menyeruputnya sambil membaca koran pagi. Atau, teman-temannya, sesama pejabat tentunya, sudah menunggunya untuk membicarakan tipu muslihat apa lagi yang akan mereka lakukan agar tahun anggaran berikut mereka bisa mencuri uang rakyat lebih banyak lagi. Bah! Apa ini? Sudah gilakah dunia ini?
Hai pejabat!
Tak sadarkah kau, rakyatlah yang membiayai hidupmu? Mobil mewah yang kau kendarai di jalan dengan sombongnya itu adalah uang rakyat! Harusnya kau malu dengan kepongahanmu di jalan dengan mengendarai mobil hasil keringat rakyat. Bagaimana bisa kau menyombongkan diri dengan harta rakyat? Sadar Bung! Sadar!
Atau kau memang bodoh sehingga kau tidak tahu dari mana datangnya uang untuk membiayai kemewahan hidupmu itu? Sudahlah! Istrimu memang bodoh. Ia tidak tahu mobil pelat merah yang ada padamu itu dibeli dengan uang rakyat. Karena itu ia sering menggunakannya ke pasar dan ke arisan saat-saat jam kantor sedang aktif. Atau juga anakmu memang lebih bodoh lagi, karena ia juga membawa mobil pelat merah yang ada padamu untuk jalan-jalan ke boulevard hingga akhirnya ikut balapan liar dan merusakkannya sampai hancur. Atau, ternyata kau lebih bodoh lagi, meminta ganti dengan mobil yang lebih mahal. Bah! Seluruh keluargamu memang bodoh. Kau suruh lagi rakyatmu kerja dengan keringat darah untuk membelikanmu mobil yang lebih mahal? Bah! Sekali lagi! Bah!
Ingin juga sekali-kali rakyat meminjam mobil pelat merah yang ada padamu untuk sekedar jalan-jalan. Bolehkan? Itukan mobil hasil keringat rakyat!
Apa?
Kau tidak tau itu hasil keringat rakyat?
Keterlaluan!
Ternyata kau ini memang bodoh!
Bagaimana bisa kau jadi pejabat kalau kau bodoh!
Ups!
Memang pejabat Indonesia bodoh ya?
Ijasahnya palsu! Dibeli!
Pantas saja!
Tidak mungkin jadi pejabat kalau tidak bodoh! Pasti bodoh!
Pasti kau bodoh!
Kalau kau pintar pasti kau tau menghargai hasil keringat rakyat!
